Wednesday, August 26, 2009

Kisah Menarik Seputar Kemerdekaan Republik Indonesia

Quote from :

http://ivanzz.dagdigdug.com/2008/07/21/ivn.ishare.ivnetwork/kisah-menarik-

seputar-kemerdekaan-republik-indonesia/




Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi

dari kamar tidur?

Coba simak ceritanya.

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur

nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena

gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah

begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi

di rumah Laksamana Maeda.
“Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter

kesayangannya.

Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak

pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun.

Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat

pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari

serambi rumah.

“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung

Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan

lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih.

Setelah upacara yang singkat itu, Bungk Karno kembali ke kamar tidurnya.

masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

**********************

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa

protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam.
Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam

hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang

yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih

dari tiga ratus tahun!

***********************

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI.
Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain

sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

***********************

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri

pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri

sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah

menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab

negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang

Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung

(lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri

Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V

(1988-1993).

Fahmi: sekarang AT mah jadi tukang korupsi…

***********************

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral

wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di

dunia.
Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden

Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah

dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

************************

Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat.

Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa

Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara

kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood.

Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk

sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya

Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian

menjadi Presiden AS).

Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan

Marilyn dalam hal protokol.

Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President”

atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince Soekarno!”

*************************

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17

Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya),

telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film

tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia

pada 1960-an.
Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk

kategori film asing!

Fahmi: hebat…Indonesia bisa menjadi sumber inspirasi untuk membuat

film….dapat penghargaan pula. Mudah2an peledakan bom Bali + JW

Marriot ga dibikin filmnya…ntar dapat oscar utk semua kategori, hehehe..

*************************

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan

oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki

dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru

disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah.
Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah

Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik

oleh Sajuti Melik.

Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden

Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

************************

Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung

Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah

menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung

Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang

penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
“Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang

jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto,

yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

*************************

Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang

pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon),

Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman

Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang

pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno

ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat.

Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu.

Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno

melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali,

bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…

***************************

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat

didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini.

Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan

peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam

detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya

negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan

perjuangan.
Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar.

Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor

harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi

secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau

Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

****************************

Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi,

Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata

kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara

rahasia.
Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”.

Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik,

seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM

Morarji Desai.
Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu

Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan

Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.

Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu

adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada

Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar !” ujar tokoh

kharismatik itu kepada Nehru
****************************

Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal

tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada

tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman

(wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner

van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

***************************

Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli

Indonesia.
Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari

kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah

negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

****************************

Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota

tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang

cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia.

Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta.
Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek

bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara

diresmikan dengan memakai nama mereka.

****************************

Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan

yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru

1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada

mereka.

****************************

Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua”

proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan

Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol

no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din

hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi

harinya.

Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu

dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad

Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
“Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta

karena usulnya ditolak.

****************************

Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban

rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI.

Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta,

merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah

ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji

oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru.

Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di

Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya

sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

****************************

Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun

waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu

kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi

(1948-1949).

****************************

Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada

kenyatannya tidak prnah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau

tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan

sekalipun!
****************************

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang

memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia

Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang

orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.

Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri

wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh

pihak Sekutu.

Paa 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang

dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan

pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

*****************************

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama

RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah

dekret, melainkan memanggil tukang sate !!!

Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi

sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate

bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).

“Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor.

Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas

pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari

sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

*****************************

Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda

tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak

akan pernah dilupakan oleh Bun Karno.

Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di

Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang

menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota

Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

******************************

Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang

Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada

yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya

sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa

hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

0 Komen: